Translate

Kamis, 04 Desember 2014

Objek wisata Sri Tanjung Dlingo

Sri Tanjung Dlingo menjadi lokasi syuting film Beyond Skyline dibintangi aktor-aktor Hollywood

 
Dlingo : Jogja.Co : Objek wisata Sri Tanjung yang terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo Bantul menjadi lokasi syuting film Beyond Skyline. Sebuah film laga yang rencana dibintangi aktor-aktor Hollywood . Lalu seperti apakah Sri Tanjung itu?

Kepala Desa Jatimulyo Paimo Sastro Wiharjo menyampaikan Sri Tanjung merupakan objek wisata alternatif yang dimiliki Dlingo di Dusun Dodogan. Objek ini mirip dengan wisata yang ditawarkan Sri Getuk Playen Gunungkidul, yakni mengangkat potensi Kali Oya.

Pembangunan objek wisata ini dimulai sejak tahun 2013 dengan membuka akses jalan bagi pengunjung. Sekitar 1,4 Km jalan trap dibangun dengan dana Rp270 juta dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Tahun 2014, pembangunan berlanjut untuk pembendungan Kali Oya guna mendukung potensi keindahan.

Paimo menambahkan Pemerintah Desa dan masyarakat juga telah merencanakan pekerjaan pembangunan berkelanjutan di tahun 2015. Rencana ada tiga obyek yang akan dilanjutkan yakni wisata panjat tebing, lintasan olah raga khusus sepeda motor trail dan pembangunan kolam renang.

Sekadar diketahui, Desa Jatimulyo juga tengah menyiapkan kegiatan pembangunan wisata religi dengan dimilikinya tempat peninggalan bersejarah yakni sendang banyu uripan dan Jati Kluwih. Dua tempat ini tengah menunggu kabar kejelasan atas pengajuan Dana Keistimewaan yang telah diajukan Rp1 miliar.

Pemerintah Desa Jatimulyo telah menyiapkan rencana pembangunan meliputi pembangunan sarana umum penunjang obyek wisata seperti pagar, pintu gerbang, MCK, dan bangunan pendopo. Desa melihat menurunnya kunjungan ditempat menyimpang sejarah penting ini akibat tidak terdukungnya kebutuhan sarana umum dan tidak tersasarnya kebijakan pengembangan pariwisata selama ini.
 
 sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2014/12/sri-tanjung-dlingo-menjadi-lokasi.html

Selasa, 25 November 2014

Pemandangan Sungai OYO Dlingo

Mungkin beberapa bulan terakhir, ada banyak hal yang loncat-loncat dari pikiran saya, maka kali ini saya akan merefresh kembali semua dan kembali pada "DLINGO MARGINAl". Nah kali ini saya akan mengajak anda dan menawarkan sebuah keajaiban berupa Spot pemandangan bentang alam perbatasan Kecamatan dlingo bantul dengan Kabupaten Gunungkidul.

Gambar di atas adalah jembatan penghubung antara Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Gunungkidul yogyakarta yang melintasi Kecamatan Dlingo bantul yogyakarta. pada ujung barat jembatan menjadi wilayah Kab. Bantul sedangkan ujung Timur menjadi wilayah Kab. Gunungkidul. pembangunan jembatan ini di mulai pada tahun 2004, pembangunan jembatan ini membawa perubahan yang besar baik dari sisi struktur maupun infrastruktur baik secara ekonomi, sosial maupun budaya.
Pada hari-hari tertentu jembatan ini penuh sesak oleh para kawula muda yang menghabiskan hari dan menunggu gelap. Apalagi jika malam minggu, bisa-bisa pengunjung di jembatan ini bisa sampai jam 10-12 malam. namun jangan salah, keramaiyan di jembatan ini bukan semata-mata duduk diam dan lihat pemandangan tapi kadang di sertai dengan atraksi-atraksi balap motor liar, offroad, trail track dan berlomba-lomba mencari pasangan..alias pacaran.,...hehehehe..
Pengembangan wilayah ini masih sebatas jalan alternatif sebagai jalan tembus dari dan ke kedua kabupaten di wilayah Yogyakarta ini. namun meski demikian sayang jika hanya seperti itu kan, masak pemandangan yang elok, udara sore yang sejuk, hanya dilewatkan tanpa konsep yang tertata. wah...jika pada suatu hari masih mungkin....kayaknya di bikin arena balap, offroad, trail track...akan memiliki daya tarik yang lebih hebat lagi....yah paling tidak jika bukan aku,,,,,ya..mungin para pembaca dapat mengambil inisiatif lebih awal ...dari saya...maklum berapa seh..gaji.."Oemar Bakrie"..cuma cukup buat beli susu....Gak cukup buat bikin adventuring Area.....
sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2009/09/dlingo-pemandangan-sungai-oyo.html

Kecamatan Dlingo



Buat yang belum Mengenal Dlingo bantul Sekali lagi saya kasih info singkat..meski belum begitu valid tapi mudah-mudahan bisa memberikan keterangan yang membantu. Dlingo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis Dlingo terletak di Kabupaten Bantul paling timur, dan berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, potensi yang ada di kecamatan Dlingo adalah pada sektor industri kayu, anyaman bambu, tambang batu, pertanian berladang, kehutanan, perkebunan, pariwisata dan potensi bentang alam berupa pegunungan dengan Luas 55,87 km².

Karakteristik Desa yang dimilikipun beraneka ragam antara lain : 
Desa Mangunan:
Desa ini memiliki potensi agrowisata berupa kebun buah (masih dalam rintisan), kerajinan ukiran, souvenir, dan alam pedesaan yang masih alami, fasilitas jalan yang bagus yang di tunjang dengan keramahan masyarakat lokal yang bersahaja dan berbudaya. Disamping itu kandungan mineral tanah yang di miliki dapat dijadikan bahan campuran pembuat gerabah. Ritual desa yang sering dilakukan adalah pementasan Ketoprak mataram setiap setahun sekali pada bulan Agustus dan acara budaya lain.

Peta lokasi Kecamatan Dlingo bantul
Desa Muntuk:
Desa ini memiliki potensi kerajinan anyaman bambu yang sudah menembus pasar nasional maupun internasional, disamping juga potensi wisata pemandangan alam pegunungungan di kawasan wisata Nganjir. Desa muntuk ini memiliki karakter masyarakat yang tradisional yang masih kuat memegang tradisi dan budaya lokal yang ada. pada bulan-bulan tertentu digelar pesta budaya Tayuban ( Ledekan) untuk acara bersih Dusun. sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, pengerajin bambu dan kayu. hasil kerajinan masyarakat Desa Muntuk sampai saat ini sudah menembus pasar-pasar internasional. namun bagi anda yang berdomisili di indonesia jangan khawatir, bila datang kesana akan mendapatkan harga tarif lokal.
Desa Terong:
Desa ini merupakan desa yang secara politik paling dinamis, hal ini bisa ditunjukan dengan peran serta partisipasi politik masyarakatnya yang tinggi dalam setiap pesta demokrasi (Pemilu). Di samping juga dari sisi pembangunan pendidikan termasuk yang paling menonjol sehingga kultur masyarakat yang kritis sudah mulai terbangun. Secara ekonomi sebagian besar masyarakat Desa Terong bermatapencarian sebagai petani, namun pada generasi terkini sudah mulai ada pergeseran pekerjaan. dominasi pekerjaan yang lain adalah hampir 35 % masyarakatnya sudah bekerja sebagai birokrat, TNI, Polri, dan Pekerja Perusahaan.
Desa Temuwuh:
Karakteristik desa ini yang paling menonjol adalah pada persaingan ekonomi tepatnya secara ekonomi masyarakat sudah mulai sadar akan potensi desanya yaitu dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berdagang dan berusaha menciptakan lapangan kerja. Usaha kecil menengah mulai berkembang dan mulai menembus pasar nasional. Komoditi yang paling mendominasi adalah industri kayu/meubeler berupa daun pintu, meja, kursi dan barang-barang dari kayu, disamping indusri pengrajin bunga palsu, serta rak-rak kayu sengon.
Desa Jatimulyo:
Secara umum desa ini tidak mengalami pertumbuhan secara menonjol, baik dari sisi ekonomi, politik,dan potensi lokal yang ada, akan tetapi di wilayah ini terdapat lokasi-lokasi wisata ritual yang selalu ramai dikunjungi wisatawan luar daerah seperti Sendang Banyu Urip dan Pohon Jatikluwih. Sehingga ciri umum desa ini terletak pada warisan budaya yang religius dari leluhur.
Desa Dlingo:
Desa Dlingo merupakan desa yang secara religius beraneka ragam, secara ekonomi didominasi sektor pertanian, dan secara politik masih tradisionalis, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan masih lemah, namun dari sisi kekayaan alam terdapat potensi hidrologi (air bawah tanah) yang bisa dikembangkan. Kebutuhan air di desa ini bisa dipenuhi dengan syarat pengelolaan sumber daya yang ada dapat diakses secara maksimal.

sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2009/09/dlingo.html

Bukit Bintang Jalur Dlingo Utara

Memasuki kawasan Kecamatan Dlingo bantul lewat jalur darat dapat di tempuh melalui berbagai jalan yang tersedia dan terhubung dengan wilayah-wilayah lain di Provinsi DIY. Pada tulisan-tulisan terdahulu saya pernah menulis jalur akses kecamatan dlingo melalui jalur Timur "menyeberangi Sungai oyo dan Jembatan Dodogan", melalui jalur Selatan "melewati imogiri dan makam raja-raja mataram" dan kali ini saya akan sedikit memberikan gambaran akses masuk Kecamatan Dlingo melalui jalur utara " melalui jalan Jogja_Wonosari". Pada jalur utara ini kita mulai perjalanan melalui pusat kota Yogjakarta atau sepanjang ring road utara dan selatan yang ada di yogyakarta.


Jika anda berada pada ketiga lokasi tersebut untuk dapat memasuki Kecamatan Dlingo melalui jalur Utara anda cukup menuju dan mencari Jalan Jogja - Wonosari. setelah anda menemukan jalan jogja wonosari anda akan menempuh perjalanan kira-kira 18 Km dari pusat kota menuju arah Timur. Sesampai di kecamatan Piyungan anda akan bertemu dengan sebuah bukit dengan jalan berkelok-kelok sepanjang kira-kira 7 Km. Sepanjang tanjakan biasanya arus kendaraan ramai lancar, namun jika hari sabtu malam minggu anda harus hati-hati karena biasanya jalur ini akan padat merayap. Hal ini dikarenakan para penglaju/pekerja/siswa/mahasiswa dari kabupaten Gunungkidul biasanya pulang ke Wonosari.
Nah..setelah sampai pada puncak bukit anda sudah memasuki wilayah Kecamatan Patuk, disana anda akan bertemu dengan pertigaan Patuk. Untuk menuju Ke Dlingo anda harus mengambil jalur ke arah Selatan "Ambil kanan/Belok Kanan". Lalu setelah kira-kira 300 meter anda akan bertemu pertigaan lagi, lalu ambil kanan lagi ya, nah setelah itu anda harus mempersiapkan gigi rasio 1 sebagai persiapan. Hal ini perlu diperhatikan karena ada salah satu tanjakan paling tinggi yang biasa disebut "Mbrambang"..banyak terjadi kecelakan mobil dan motor di kawasan ini. Jika anda lolos di tanjakan ini maka dapat di pastikan bahwa anda sudah pasti lolos menghadapi tanjakan-tanjakan lain di kawasan Dlingo.
Kira-kira 1 Km dari tanjakan Brambang ini cobalah berhenti sejenak untuk menghirup udara segar pegunungan. Di puncak bukit ini kalau malam minggu biasa di padati para kaum muda yang lagi asik pacaran. Biasanya bagi mereka yang lagi di madu asmara , mereka menyebut kawasan ini sebagai "BUKIT BINTANG".
Pemandangan Bukit Bintang atau masyarakat lokal biasa menyebutnya dengan Watu Amben Jika Dimalam HariPanorama Lampu Yogyakarta akan terlihat dengan jelas dan indah. Dari puncak bukit ini kan terlihat jelas kota yogyakarta dan sekitarnya secara menyeluruh. Bahkan anda juga bisa melihat panorama Gunung Merapi jika cuaca cerah. Jika sekiranya anda sudah cukup melepas lelah, anda dapat melanjutkan perjalanan menuju kecamtan dlingo yang tinggal 15 Km lagi. Dijamin tidak melelahkan, karena anda akan selalu di suguhi dengan pemandangan alam perdesaan yang masih rindang akan pohon-pohon dan hutan rakyat yang memang sengaja dilestarikan di kawasan ini.
Kira-kira setelah perjalanan 20 menit dari Bukit Bintag/Watu amben anda akan bertemu dengan perempatan Ringin Terong, tepatnya berada di Desa Terong kecamatan Dlingo. Jika anda lurus keselatan anda akan menuju ke desa Muntuk dan Desa mangunan. Namun jika anda ke barat anda akan menuju Kecamatan Pleret, sedangkan jika anda menuju arah Timur anda akan menuju ibu kota Kecamatan Dlingo disamping juga anda dapat menuju ke Gunungkidul. Pokoknya Menarik dan di jamin ketagihan jika anda memang memiliki karakter pribadi yang suka tantangan dan traveling. Jangan di tunda lagi ya, untuk sekedar berkunjung atau mencari relasi atau bahkan investasi..saya siap mengatarkan anda.
sumber:Memasuki kawasan Kecamatan Dlingo bantul lewat jalur darat dapat di tempuh melalui berbagai jalan yang tersedia dan terhubung dengan wilayah-wilayah lain di Provinsi DIY. Pada tulisan-tulisan terdahulu saya pernah menulis jalur akses kecamatan dlingo melalui jalur Timur "menyeberangi Sungai oyo dan Jembatan Dodogan", melalui jalur Selatan "melewati imogiri dan makam raja-raja mataram" dan kali ini saya akan sedikit memberikan gambaran akses masuk Kecamatan Dlingo melalui jalur utara " melalui jalan Jogja_Wonosari". Pada jalur utara ini kita mulai perjalanan melalui pusat kota Yogjakarta atau sepanjang ring road utara dan selatan yang ada di yogyakarta..
sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2009/10/dlingo-bukit-bintang-jalur-akses.html

Cino Mati Jalur Cepat Dlingo


"Cino Mati" atau kalau didalam bahasa indonesia bisa di sebutkan "Cina Mati", adalah sebutan bagi sebuah ruas jalan yang mengakses alternatif jalur sebelah barat dari Kecamatan Dlingo bantul menuju pusat Kota Yogyakarta melalui Kecamatan Pleret dan Kecamatan Banguntapan. Dari ibu kota kecamatan ke utara, lalu setelah sampai Desa Terong (tepatnya di perempatan "Ringin Terong") menuju arah barat maka anda akan sampai di ruas jalan Cino Mati.

Ruas jalan ini kira-kira sepanjang 7 kilo meter berkarakter kemiringan jalan yang X-trim. Sepanjang Tahun 2009 tercatat sudah terjadi kecelakaan sebanyak 5 kali dan rata-rata penyebab kecelakaan tersebut adalah ketidak mampuan kendaraan akibat keterbatasan mesin. badan jalan sudah baik dilengkapi dengan irigasi yang memenuhi syarat, namun karena jalan tersebut merupakan jalan tembus yang memiliki kemiringan lereng vertikal curam maka banyak tebing-tebing batu yang masih membahayakan pengguna jalan.
Pada tahun 2009 telah terjadi longsoran tebing sebanyak 4 kali, namun tidak ada korban baik jiwa maupun material. Biasanya Longsoran ini terjadi pada musim hujan dengan debit air yang cukup deras sehingga lapisan-lapisan batu bertanah yang ada tidak mampu menahan laju pergerakan air. sampai sekarang ini potensi tanah longsor di kawasan ini masih besar dan mungkin terjadi.
Dilihat dari sejarah, jalan ini dirintis pada era Soeharto pada waktu itu ada program pemerintah "ABRI MASUK DESA" pada sekitar tahun 1990-an. berawal dari situ kemudian karena wilayah tersebut berbatasan dengan dua kecamatan maka pengerjaan-nya juga melibatkan warga masyarakat yang berasal dari desa Terong dan juga dari Desa Wonolelo Kecamatan Pleret.
Sebutan "Cino Mati" sendiri memiliki beberapa sejarah dan cerita yang berbeda-beda, namun karena keterbatasan informasi maka saya belum akan mengulas lebih jauh. Kawasan ini menjanjikan panorama segar sekaligus tantangan bagi pengembangan wisata yang apa bila di garap secara berkesinambungan akan menciptakan mata rantai kunjungan wisata di Kecamatan Dlingo.

Sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2009/11/dlingo-cino-mati-jalur-cepat-dari.html

JATILAN CEMPLUK MANGUNAN


JATILAN
Jatilan merupakan sebuah tarian tradisional yang penarinya menggunakan kuda kepang dan dilengkapi dengan unsur magis. Tarian ini digelar dengan iringan beberapa macam alat musik gamelan seperti: kendang, saron dan gong. Tarian tradisional ini dapat Anda saksikan di Mangunan. Jatilan di Desa Mangunan sampai saat ini masih sering digelar dan dilestarikan oleh warga di Pedukuhan Cempluk.

Gambar 1. Jatilan sedang beraksi

Gambar 2. Jatilan sangat populer di Desa Mangunan

Gambar 3. Jatilan sering pentas di acara-acara adat


Pada umumnya penyelenggaraan pertunjukan tari jatilan tidak dilakukan secara rutin. Jika ingin menyelenggarakan pertunjukan jatilan, Anda dapat mengundang kelompok penari jatilan. Penari jatilan di Desa Mangunan tidak hanya orang dewasa. Anak-anak kecil seusia sekolah dasar juga sudah sering mengikuti pertunjukan. Pusat pelatihan tarian tradisional ini terletak di Pedukuhan Cempluk. Anda dapat berkunjung ke pusat pelatihan tersebut untuk ikut serta berlatih menari jatilan.
sumber :http://deswitamangunan.blogspot.com/2013/08/jatilan.html

Kerajinan kayu Mangunan

Kerajinan kayu  Mangunan

Kerajinan kayu termasuk salah satu daya tarik wisata Mangunan. Ada beberapa home industry yang memproduksi kerajinan kayu dan berpusat di Pedukuhan Mangunan. Produk yang dihasilkan berupa souvenir maupun peralatan rumah tangga dengan berbagai kualitas sesuai dengan target customer. Saat ini produk kerajinan kayu Mangunan sudah terdistribusikan ke berbagai daerah di dalam maupun luar negeri.

Gambar 1. Produk Kerajinan Kayu

Anda dapat melihat langsung atau bahkan mencoba membuat sendiri kerajinan kayu dengan mengunjungi home industry yang ada di Pedukuhan Mangunan. Sebagai sentra kerajinan kayu, ketika masuk di Pedukuhan Mangunan, maka Anda dapat menyaksikan hampir setiap rumah memproduksi kerajinan berbahan dasar kayu. Di Mangunan belum banyak home industy yang memiliki showroom atau fasilitas yang memadai sebagaidisplay produk. Namun, dengan mengunjungi tempat produksi maka Anda dapat melihat langsung proses pembuatan dan produk jadi (siap jual) kerajinan kayu.

sumber :http://deswitamangunan.blogspot.com/2013/08/kerajinan-kayu.html