Translate

Selasa, 25 November 2014

Pemandangan Sungai OYO Dlingo

Mungkin beberapa bulan terakhir, ada banyak hal yang loncat-loncat dari pikiran saya, maka kali ini saya akan merefresh kembali semua dan kembali pada "DLINGO MARGINAl". Nah kali ini saya akan mengajak anda dan menawarkan sebuah keajaiban berupa Spot pemandangan bentang alam perbatasan Kecamatan dlingo bantul dengan Kabupaten Gunungkidul.

Gambar di atas adalah jembatan penghubung antara Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Gunungkidul yogyakarta yang melintasi Kecamatan Dlingo bantul yogyakarta. pada ujung barat jembatan menjadi wilayah Kab. Bantul sedangkan ujung Timur menjadi wilayah Kab. Gunungkidul. pembangunan jembatan ini di mulai pada tahun 2004, pembangunan jembatan ini membawa perubahan yang besar baik dari sisi struktur maupun infrastruktur baik secara ekonomi, sosial maupun budaya.
Pada hari-hari tertentu jembatan ini penuh sesak oleh para kawula muda yang menghabiskan hari dan menunggu gelap. Apalagi jika malam minggu, bisa-bisa pengunjung di jembatan ini bisa sampai jam 10-12 malam. namun jangan salah, keramaiyan di jembatan ini bukan semata-mata duduk diam dan lihat pemandangan tapi kadang di sertai dengan atraksi-atraksi balap motor liar, offroad, trail track dan berlomba-lomba mencari pasangan..alias pacaran.,...hehehehe..
Pengembangan wilayah ini masih sebatas jalan alternatif sebagai jalan tembus dari dan ke kedua kabupaten di wilayah Yogyakarta ini. namun meski demikian sayang jika hanya seperti itu kan, masak pemandangan yang elok, udara sore yang sejuk, hanya dilewatkan tanpa konsep yang tertata. wah...jika pada suatu hari masih mungkin....kayaknya di bikin arena balap, offroad, trail track...akan memiliki daya tarik yang lebih hebat lagi....yah paling tidak jika bukan aku,,,,,ya..mungin para pembaca dapat mengambil inisiatif lebih awal ...dari saya...maklum berapa seh..gaji.."Oemar Bakrie"..cuma cukup buat beli susu....Gak cukup buat bikin adventuring Area.....
sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2009/09/dlingo-pemandangan-sungai-oyo.html

Kecamatan Dlingo



Buat yang belum Mengenal Dlingo bantul Sekali lagi saya kasih info singkat..meski belum begitu valid tapi mudah-mudahan bisa memberikan keterangan yang membantu. Dlingo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis Dlingo terletak di Kabupaten Bantul paling timur, dan berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul, potensi yang ada di kecamatan Dlingo adalah pada sektor industri kayu, anyaman bambu, tambang batu, pertanian berladang, kehutanan, perkebunan, pariwisata dan potensi bentang alam berupa pegunungan dengan Luas 55,87 km².

Karakteristik Desa yang dimilikipun beraneka ragam antara lain : 
Desa Mangunan:
Desa ini memiliki potensi agrowisata berupa kebun buah (masih dalam rintisan), kerajinan ukiran, souvenir, dan alam pedesaan yang masih alami, fasilitas jalan yang bagus yang di tunjang dengan keramahan masyarakat lokal yang bersahaja dan berbudaya. Disamping itu kandungan mineral tanah yang di miliki dapat dijadikan bahan campuran pembuat gerabah. Ritual desa yang sering dilakukan adalah pementasan Ketoprak mataram setiap setahun sekali pada bulan Agustus dan acara budaya lain.

Peta lokasi Kecamatan Dlingo bantul
Desa Muntuk:
Desa ini memiliki potensi kerajinan anyaman bambu yang sudah menembus pasar nasional maupun internasional, disamping juga potensi wisata pemandangan alam pegunungungan di kawasan wisata Nganjir. Desa muntuk ini memiliki karakter masyarakat yang tradisional yang masih kuat memegang tradisi dan budaya lokal yang ada. pada bulan-bulan tertentu digelar pesta budaya Tayuban ( Ledekan) untuk acara bersih Dusun. sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, pengerajin bambu dan kayu. hasil kerajinan masyarakat Desa Muntuk sampai saat ini sudah menembus pasar-pasar internasional. namun bagi anda yang berdomisili di indonesia jangan khawatir, bila datang kesana akan mendapatkan harga tarif lokal.
Desa Terong:
Desa ini merupakan desa yang secara politik paling dinamis, hal ini bisa ditunjukan dengan peran serta partisipasi politik masyarakatnya yang tinggi dalam setiap pesta demokrasi (Pemilu). Di samping juga dari sisi pembangunan pendidikan termasuk yang paling menonjol sehingga kultur masyarakat yang kritis sudah mulai terbangun. Secara ekonomi sebagian besar masyarakat Desa Terong bermatapencarian sebagai petani, namun pada generasi terkini sudah mulai ada pergeseran pekerjaan. dominasi pekerjaan yang lain adalah hampir 35 % masyarakatnya sudah bekerja sebagai birokrat, TNI, Polri, dan Pekerja Perusahaan.
Desa Temuwuh:
Karakteristik desa ini yang paling menonjol adalah pada persaingan ekonomi tepatnya secara ekonomi masyarakat sudah mulai sadar akan potensi desanya yaitu dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berdagang dan berusaha menciptakan lapangan kerja. Usaha kecil menengah mulai berkembang dan mulai menembus pasar nasional. Komoditi yang paling mendominasi adalah industri kayu/meubeler berupa daun pintu, meja, kursi dan barang-barang dari kayu, disamping indusri pengrajin bunga palsu, serta rak-rak kayu sengon.
Desa Jatimulyo:
Secara umum desa ini tidak mengalami pertumbuhan secara menonjol, baik dari sisi ekonomi, politik,dan potensi lokal yang ada, akan tetapi di wilayah ini terdapat lokasi-lokasi wisata ritual yang selalu ramai dikunjungi wisatawan luar daerah seperti Sendang Banyu Urip dan Pohon Jatikluwih. Sehingga ciri umum desa ini terletak pada warisan budaya yang religius dari leluhur.
Desa Dlingo:
Desa Dlingo merupakan desa yang secara religius beraneka ragam, secara ekonomi didominasi sektor pertanian, dan secara politik masih tradisionalis, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan masih lemah, namun dari sisi kekayaan alam terdapat potensi hidrologi (air bawah tanah) yang bisa dikembangkan. Kebutuhan air di desa ini bisa dipenuhi dengan syarat pengelolaan sumber daya yang ada dapat diakses secara maksimal.

sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2009/09/dlingo.html

Bukit Bintang Jalur Dlingo Utara

Memasuki kawasan Kecamatan Dlingo bantul lewat jalur darat dapat di tempuh melalui berbagai jalan yang tersedia dan terhubung dengan wilayah-wilayah lain di Provinsi DIY. Pada tulisan-tulisan terdahulu saya pernah menulis jalur akses kecamatan dlingo melalui jalur Timur "menyeberangi Sungai oyo dan Jembatan Dodogan", melalui jalur Selatan "melewati imogiri dan makam raja-raja mataram" dan kali ini saya akan sedikit memberikan gambaran akses masuk Kecamatan Dlingo melalui jalur utara " melalui jalan Jogja_Wonosari". Pada jalur utara ini kita mulai perjalanan melalui pusat kota Yogjakarta atau sepanjang ring road utara dan selatan yang ada di yogyakarta.


Jika anda berada pada ketiga lokasi tersebut untuk dapat memasuki Kecamatan Dlingo melalui jalur Utara anda cukup menuju dan mencari Jalan Jogja - Wonosari. setelah anda menemukan jalan jogja wonosari anda akan menempuh perjalanan kira-kira 18 Km dari pusat kota menuju arah Timur. Sesampai di kecamatan Piyungan anda akan bertemu dengan sebuah bukit dengan jalan berkelok-kelok sepanjang kira-kira 7 Km. Sepanjang tanjakan biasanya arus kendaraan ramai lancar, namun jika hari sabtu malam minggu anda harus hati-hati karena biasanya jalur ini akan padat merayap. Hal ini dikarenakan para penglaju/pekerja/siswa/mahasiswa dari kabupaten Gunungkidul biasanya pulang ke Wonosari.
Nah..setelah sampai pada puncak bukit anda sudah memasuki wilayah Kecamatan Patuk, disana anda akan bertemu dengan pertigaan Patuk. Untuk menuju Ke Dlingo anda harus mengambil jalur ke arah Selatan "Ambil kanan/Belok Kanan". Lalu setelah kira-kira 300 meter anda akan bertemu pertigaan lagi, lalu ambil kanan lagi ya, nah setelah itu anda harus mempersiapkan gigi rasio 1 sebagai persiapan. Hal ini perlu diperhatikan karena ada salah satu tanjakan paling tinggi yang biasa disebut "Mbrambang"..banyak terjadi kecelakan mobil dan motor di kawasan ini. Jika anda lolos di tanjakan ini maka dapat di pastikan bahwa anda sudah pasti lolos menghadapi tanjakan-tanjakan lain di kawasan Dlingo.
Kira-kira 1 Km dari tanjakan Brambang ini cobalah berhenti sejenak untuk menghirup udara segar pegunungan. Di puncak bukit ini kalau malam minggu biasa di padati para kaum muda yang lagi asik pacaran. Biasanya bagi mereka yang lagi di madu asmara , mereka menyebut kawasan ini sebagai "BUKIT BINTANG".
Pemandangan Bukit Bintang atau masyarakat lokal biasa menyebutnya dengan Watu Amben Jika Dimalam HariPanorama Lampu Yogyakarta akan terlihat dengan jelas dan indah. Dari puncak bukit ini kan terlihat jelas kota yogyakarta dan sekitarnya secara menyeluruh. Bahkan anda juga bisa melihat panorama Gunung Merapi jika cuaca cerah. Jika sekiranya anda sudah cukup melepas lelah, anda dapat melanjutkan perjalanan menuju kecamtan dlingo yang tinggal 15 Km lagi. Dijamin tidak melelahkan, karena anda akan selalu di suguhi dengan pemandangan alam perdesaan yang masih rindang akan pohon-pohon dan hutan rakyat yang memang sengaja dilestarikan di kawasan ini.
Kira-kira setelah perjalanan 20 menit dari Bukit Bintag/Watu amben anda akan bertemu dengan perempatan Ringin Terong, tepatnya berada di Desa Terong kecamatan Dlingo. Jika anda lurus keselatan anda akan menuju ke desa Muntuk dan Desa mangunan. Namun jika anda ke barat anda akan menuju Kecamatan Pleret, sedangkan jika anda menuju arah Timur anda akan menuju ibu kota Kecamatan Dlingo disamping juga anda dapat menuju ke Gunungkidul. Pokoknya Menarik dan di jamin ketagihan jika anda memang memiliki karakter pribadi yang suka tantangan dan traveling. Jangan di tunda lagi ya, untuk sekedar berkunjung atau mencari relasi atau bahkan investasi..saya siap mengatarkan anda.
sumber:Memasuki kawasan Kecamatan Dlingo bantul lewat jalur darat dapat di tempuh melalui berbagai jalan yang tersedia dan terhubung dengan wilayah-wilayah lain di Provinsi DIY. Pada tulisan-tulisan terdahulu saya pernah menulis jalur akses kecamatan dlingo melalui jalur Timur "menyeberangi Sungai oyo dan Jembatan Dodogan", melalui jalur Selatan "melewati imogiri dan makam raja-raja mataram" dan kali ini saya akan sedikit memberikan gambaran akses masuk Kecamatan Dlingo melalui jalur utara " melalui jalan Jogja_Wonosari". Pada jalur utara ini kita mulai perjalanan melalui pusat kota Yogjakarta atau sepanjang ring road utara dan selatan yang ada di yogyakarta..
sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2009/10/dlingo-bukit-bintang-jalur-akses.html

Cino Mati Jalur Cepat Dlingo


"Cino Mati" atau kalau didalam bahasa indonesia bisa di sebutkan "Cina Mati", adalah sebutan bagi sebuah ruas jalan yang mengakses alternatif jalur sebelah barat dari Kecamatan Dlingo bantul menuju pusat Kota Yogyakarta melalui Kecamatan Pleret dan Kecamatan Banguntapan. Dari ibu kota kecamatan ke utara, lalu setelah sampai Desa Terong (tepatnya di perempatan "Ringin Terong") menuju arah barat maka anda akan sampai di ruas jalan Cino Mati.

Ruas jalan ini kira-kira sepanjang 7 kilo meter berkarakter kemiringan jalan yang X-trim. Sepanjang Tahun 2009 tercatat sudah terjadi kecelakaan sebanyak 5 kali dan rata-rata penyebab kecelakaan tersebut adalah ketidak mampuan kendaraan akibat keterbatasan mesin. badan jalan sudah baik dilengkapi dengan irigasi yang memenuhi syarat, namun karena jalan tersebut merupakan jalan tembus yang memiliki kemiringan lereng vertikal curam maka banyak tebing-tebing batu yang masih membahayakan pengguna jalan.
Pada tahun 2009 telah terjadi longsoran tebing sebanyak 4 kali, namun tidak ada korban baik jiwa maupun material. Biasanya Longsoran ini terjadi pada musim hujan dengan debit air yang cukup deras sehingga lapisan-lapisan batu bertanah yang ada tidak mampu menahan laju pergerakan air. sampai sekarang ini potensi tanah longsor di kawasan ini masih besar dan mungkin terjadi.
Dilihat dari sejarah, jalan ini dirintis pada era Soeharto pada waktu itu ada program pemerintah "ABRI MASUK DESA" pada sekitar tahun 1990-an. berawal dari situ kemudian karena wilayah tersebut berbatasan dengan dua kecamatan maka pengerjaan-nya juga melibatkan warga masyarakat yang berasal dari desa Terong dan juga dari Desa Wonolelo Kecamatan Pleret.
Sebutan "Cino Mati" sendiri memiliki beberapa sejarah dan cerita yang berbeda-beda, namun karena keterbatasan informasi maka saya belum akan mengulas lebih jauh. Kawasan ini menjanjikan panorama segar sekaligus tantangan bagi pengembangan wisata yang apa bila di garap secara berkesinambungan akan menciptakan mata rantai kunjungan wisata di Kecamatan Dlingo.

Sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2009/11/dlingo-cino-mati-jalur-cepat-dari.html

JATILAN CEMPLUK MANGUNAN


JATILAN
Jatilan merupakan sebuah tarian tradisional yang penarinya menggunakan kuda kepang dan dilengkapi dengan unsur magis. Tarian ini digelar dengan iringan beberapa macam alat musik gamelan seperti: kendang, saron dan gong. Tarian tradisional ini dapat Anda saksikan di Mangunan. Jatilan di Desa Mangunan sampai saat ini masih sering digelar dan dilestarikan oleh warga di Pedukuhan Cempluk.

Gambar 1. Jatilan sedang beraksi

Gambar 2. Jatilan sangat populer di Desa Mangunan

Gambar 3. Jatilan sering pentas di acara-acara adat


Pada umumnya penyelenggaraan pertunjukan tari jatilan tidak dilakukan secara rutin. Jika ingin menyelenggarakan pertunjukan jatilan, Anda dapat mengundang kelompok penari jatilan. Penari jatilan di Desa Mangunan tidak hanya orang dewasa. Anak-anak kecil seusia sekolah dasar juga sudah sering mengikuti pertunjukan. Pusat pelatihan tarian tradisional ini terletak di Pedukuhan Cempluk. Anda dapat berkunjung ke pusat pelatihan tersebut untuk ikut serta berlatih menari jatilan.
sumber :http://deswitamangunan.blogspot.com/2013/08/jatilan.html

Kerajinan kayu Mangunan

Kerajinan kayu  Mangunan

Kerajinan kayu termasuk salah satu daya tarik wisata Mangunan. Ada beberapa home industry yang memproduksi kerajinan kayu dan berpusat di Pedukuhan Mangunan. Produk yang dihasilkan berupa souvenir maupun peralatan rumah tangga dengan berbagai kualitas sesuai dengan target customer. Saat ini produk kerajinan kayu Mangunan sudah terdistribusikan ke berbagai daerah di dalam maupun luar negeri.

Gambar 1. Produk Kerajinan Kayu

Anda dapat melihat langsung atau bahkan mencoba membuat sendiri kerajinan kayu dengan mengunjungi home industry yang ada di Pedukuhan Mangunan. Sebagai sentra kerajinan kayu, ketika masuk di Pedukuhan Mangunan, maka Anda dapat menyaksikan hampir setiap rumah memproduksi kerajinan berbahan dasar kayu. Di Mangunan belum banyak home industy yang memiliki showroom atau fasilitas yang memadai sebagaidisplay produk. Namun, dengan mengunjungi tempat produksi maka Anda dapat melihat langsung proses pembuatan dan produk jadi (siap jual) kerajinan kayu.

sumber :http://deswitamangunan.blogspot.com/2013/08/kerajinan-kayu.html

SUMBER BENGKUNG MANGUNAN

SUMBER BENGKUNG MANGUNAN

Sumber Bengkung Mangunan terletak di Pedukuhan Cempluk. Sesuai namanya, Sumber Bengkung merupakan sebuah tempat dimana kita dapat menemukan sumber air yang keluar dari celah batu di dinding bukit. Air tersebut ditampung dalam bak-bak atau tandon air dari semen kemudian dialirkan ke berbagai tempat untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah sekitar. Salah satu wilayah sasaran pembagian air adalah Pajimatan Imogiri atau Kompleks Raja-raja Mataram. Sumber Bengkung tidak lepas dari cerita legenda atau mitos.
 Gambar 1. Tangga Menuju Sumber Bengkung

Gambar 2. Pintu Masuk Penampungan Air

Gambar 3. Bagian Depan Penampungan Air

Ada beberapa versi cerita legenda atau mitos tentang tempat ini. Di antaranya adalah cerita tentang Asal Mula Terjadi Mata Air dan Hutan Bengkung. Pada masa Kerajaan Mataram, Sultan Agung Hanyokro Kusumo mencari lokasi pemakaman untuk dirinya dan keturunanya yang dinamakan NITIK SITI ARUM, artinya :
NITIK              : Mencari
SITI                 : Tanah
ARUM            : Wangi
Jadi, beliau mencari tanah yang berbau harum, menurut mata hati.

Kemudian  sampailah ke tempat ini. Sampai di tempat tersebut, Sultan dan Abdinya merasa haus tetapi mereka tidak menemukan air. Sultan pun menancapkan tongkatnya  ke dinding tebing batu ini. Setelah dicabut tongkatnya, keluar mata air  dari tebing batu tersebut. Sultan beribadah dan berdoa di tempat ini minta petunjuk dimana lokasi siti arum yang dicari-carinya itu. Maka tempat ini dijadikan tempat yang keramat  dan sering dijadikan tempat pertapaan / semedi orang-orang yang mempunyai tujuan tertentu.

Setelah semedi, Sultan Agung  mendapatkan petunjuk dan di atasnya ada burung merak bertengger. Beliau yakin bahwa burung merak itu adalah suatu petunjuk. Burung merak itu terbang ke arah barat. Sultan mengikutinya dan menemukan lagi burung merak itu hinggap di bukit sebelah timur Imogiri. Ternyata benar bahwa tanah yang dilempar dari Arab itu ditemukan di tempat burung merak hinggap. Kemudian lokasi itu dinamai gumuk (bukit) merah. Lantas, paman Sultan yang bernama Panembahan Juminah diperintahkan untuk membangun bukit  itu dijadikan tempat perkuburan / makam untuk keluarga raja Mataram dan air dari tempat ini dialirkan untuk kebutuhan abdi dalem panjaga makam di Imogiri. Masyarakat meyakini, barang siapa meminum / membasuh muka dengan air ini, wajahnya akan berseri-berseri atau awet muda. 
Gambar 4. Penampungan untuk Bersuci
sumber :http://deswitamangunan.blogspot.com/2013/09/sumber-bengkung-mangunan.html

Goa Jatisari Dlingo

GOA JATISARI DLINGO

Hallo rekan jelajah, yuk kita blusukan menjelajah di Kab. Bantul Yogyakarta. Setalah putar-putar akhirnya sampai juga di kawasan Dlingo, Bantul, Yogyakarta, dan ternyata disana ada tempat wisata yang bisa dibilang cukup seru, salah satunya adalah Goa Jatisari.




Goa Jatisari ini berlokasi di Dusun Seropan 3, Muntuk, Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Daya tarik goa ini selain stalaglit dan stalalgmitnya yaitu hamparan sawah luas serta Sungai Oya. Dan juga Goa Jatisari masih asri, untuk akses ke lokasi sangat mudah karena jalan menuju Goa Jatisari sudah dicor.



Goa ini merupakan salah satu goa yang memiliki aliran sungai didalamnya. Dimusim kemarau, aliran sungai itu tidak terlalu deras sehingga pengunjung dapat masuk hingga ujung mulut goa. Saat masuk ke dalam goa ini, pengunjung akan disuguhi indahnya stalakmit dan stalaktit yang masih aktif. Panjang goa ini sendiri sekitar 1 km dengan keindahan bebatuan menarik didalamnya.



Saat ini, pengunjung belum dikenakan biaya retribusi untuk memasuki kawasan ini. Apabila pengunjung membutuhkan pemandu untuk memasuki goa Jatisari, pengunjung dapat meminta salah satu warga setempat dengan tarif seikhlasnya.

Jika kita terus menelusiri Goa Jatisari ini, maka kita akan sampai pada pintu keluar dari goa tersebut
Inilah tim expedesi ke Goa Jatisari

Sumber :http://margi-rekaos.blogspot.com/2014/11/goa-jatisari-salah-satu-calon-objek.html

Tiwul Ayu Mbok Sum MANGUNAN

Tiwul Ayu Mbok Sum



Tiwul Ayu Mbok Sum, merupakan industry rumah tangga yang memproduksi tiwul ayu berbagai rasa. Lokasi industri berada di samping rumah pemilik sendiri. Dari Jalan Manggunan terdapat plang dan spanduk yang bertuliskan ?Tiwul Ayu Mbok Sum? untuk membantu wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Yogyakarta ini.


HUTAN PINUS MANGUNAN DLINGO


Bukit mangunan itu terletak di kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya gak terlalu jauh kok dari kota Yogyakarta.pokonya kalo anda berangkat dari kota jogja, langsung ambil aja arah jalan imogiri timur. jalan imogiri timur itu terletak di sebelah timur jalan imogiri barat, dan jalan imogiri barat terletak di sebelah barat jalan imogiri timur., Hutan Pinus Mangunan berada di jalur Dlingo dan Imogiri. Hutan ini termasuk Kawasan hutan lindung di Kabupaten Bantul. Kecamatan Imogiri yang juga berbatasan dengan Kecamatan Dlingo,,jika ingin ke hutan pinus rutenya sama saja kug dengan rute mau ke kebun buah mangunan..perlu diketahui kesana tak dipungut biaya alias GRATISS…!!!!!


Dijamin Dach tempatnya  bagus,nyaman,sejuk buanget yang dan yang  jelas gak panas dan jauh dari polusi,,,,dan cocok untuk keluarga santai,buat foto-foto juga keren kug,,ato buat jelajah hutan juga baguuzz..
http://prasetyoipi10.blogspot.com/2012/03/bukit-mangunan-itu-terletak-di.html